Kementerian UMKM: Diaspora Jadi Jembatan Emas Produk Lokal Tembus Pasar Global

Jakarta – Asisten Deputi Perluasan Pasar pada Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Kementerian UMKM) Harun AS INITOGEL mengatakan, diaspora memiliki peran strategis dalam memperluas jangkauan produk lokal ke pasar internasional.

Diaspora dinilai menjadi jembatan emas bagi UMKM untuk menembus pasar global. Harun mengutip data Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) yang menyatakan jumlah diaspora Indonesia mencapai sekitar 9 juta orang yang tersebar di berbagai negara.

Menurutnya, jika potensi ini dioptimalkan, diaspora bisa menjadi ujung tombak mempromosikan dan mendistribusikan produk Indonesia ke pasar mancanegara.

“Saya tidak bisa bayangkan kalau misalnya 9 juta, kurang lebih 9 juta ya Diaspora Indonesia menurut Kementerian Luar Negeri itu punya bisnis yang bisa menarik produk-produk Indonesia ke negara-negara tempat teman-teman diaspora itu tinggal,” kata Harun dalam acara Diaspora Summit 2 yang digelar Indonesian Diaspora Network United (IDN-United) di Jakarta Selatan, Selasa (13/8/2025).

“Ini tentu multiplayer efeknya akan sangat besar dan akan mendorong produksi UMKM menembus pasar global,” sambungnya.

Harun menilai, keterlibatan diaspora tidak hanya menjadi peluang bagi UMKM untuk bisa melakukan ekspor, tetapi juga dapat menciptakan jaringan distribusi yang lebih efisien, sesuai dengan kebutuhan spesifik di negara tujuan tempat diaspora tinggal.

“Kalau tiba-tiba teman-teman diaspora ini di negara tujuannya butuh briket misalnya, briket arang, buruh coklat kami akan sangat senang dan mengoneksikan dengan teman-teman pengusaha UMKM,” ucap dia.

Tantangan UMKM

Asisten Deputi Perluasan Pasar pada Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Kementerian UMKM) Harun AS.

Asisten Deputi Perluasan Pasar pada Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Kementerian UMKM) Harun AS.

Lebih lanjut, Harun menyebut Indonesia memiliki 56,1 juta unit usaha berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) dari Survei Angkatan Kerja Nasional.

“Dari jumlah tersebut, 96 persennya adalah usaha mikro, yang masih menghadapi tantangan besar dalam hal kapasitas produksi, kualitas produk, hingga kemampuan ekspor,” ucap dia.

Harun menjelaskan tantangan UMKM, khususnya usaha mikro, bukan hanya memenuhi permintaan ekspor, tetapi juga memastikan keberlanjutan produksi di dalam negeri.

“Jangankan berpikir ekspor, untuk berproduksi lagi saja masih banyak PR yang harus kita selesaikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa dukungan diaspora dapat menjadi salah satu solusi penting bagi UMKM menembus pasar global,” terang dia.

“Dengan memanfaatkan jejaring diaspora, UMKM dapat memperoleh akses pasar, informasi kebutuhan konsumen internasional, hingga peluang pendampingan dan investasi,” tandas Harun.

Sumber : Detik88.id